Berawal Dari Bingung (Bali #1)



Karena bosan, kami berdua berencana ingin ekspedisi ke pulau indah Bawean mengendarai motor. Oke, kami mengira-ngira pengeluaran, setelah deal dengan dana iuran per orang, kami mencari informasi tiket kapal dari pelabuhan Paciran yang lebih murah dari pelabuhan Gresik. Tapi ternyata, tiket tidak sefleksibel yang kami pikirkan.
.
Kebetulan kami tidak berada ditempat yang sama, saya dipesantren dan teman saya di pesantren. Wkwkwk, maksud saya pesantren kami berdua berbeda. Saya di pesantren perbatasan Tuban-Babat, teman saya di pesantren daerah Bojonegoro. Ditempat teman saya dilarang membawa ponsel dan barang elektronik sejenisnya, ditempat saya juga tidak boleh tapi saya sedikit boleh untuk suatu keadaan. Jadi saya yang lebih leluasa untuk mencari informasi tentang tiket.
.
Saya cari di internet tentang jadwal pemberangkatan kapal dari Paciran tujuan pulau Bawean. Ternyata eh ternyata, tiket kapal jurusan tersebut tidak selalu ada setiap hari, tiket ada hanya sekitar 3 kali seminggu. Untuk tiket berangkat tidak masalah karena tanggal kita berangkat bisa menyesuaikan, tapi untuk hari kembali kita tidak bisa menyesuaikan, karena saya sudah harus stay di pesantren karena ada tugas yang sangat penting. Terpaksa kita berpikir panjang untuk membolak-balik tanggal tapi nihil, tetap tidak menemukan pencerahan. Alhasil, kita urungkan niat kami pergi ke Bawean.
.
Suatu hari setelah beberapa kali saya nyambangi teman saya ditempatnya, hari ini saya pergi kesana lagi untuk merembuk jadi kemana tujuan kita liburan nanti. Setelah sampai disana dan basa-basi, akhirnya obrolan kita mengarah ke tujuan liburan. "Piye, sido nandi iki?". Muncul usulan baru untuk kita liburan ke gunung, kebetulan kami berdua sama-sama asik dengan mendaki gunung. "Tapi gunung endi?" Kita bingung lagi. Muncullah beberapa nama gunung tapi kita masih bimbang karena liburan kemarin (libur Maulud, dan kita ini mau liburan Hari Raya) kita sudah naik gunung ke Mojokerto. Jadi, kita sedikit kurang minat untuk mendaki lagi pada liburan kali ini.
.
Tiba-tiba muncul celetuk "Ayo nang Bali piye?" waktu terus bergulir, kami masih belum ada tujuan untuk liburan nanti. hanya ada tanggal yang ditentukan yaitu hari ke 7 setelah Hari Raya.
.
Keceriaan wajah seluruh penduduk desa tumpah ruah hari itu, teman bertemu teman, kerabat bertemu kerabat, musuh bertemu musuh pun tersenyum pagi ini. Ya, pagi itu adalah awal Hari Raya Idul Fitri. puasa telah usai, tanda kemenangan tiba, tanda akan ada perdamaian dimana-mana dan tanda kami berdua semakin dekat dengan hari H. setelah kami berembuk di bulan puasa kala itu dan menentukan tangal berangkat. Betul, hanya tanggal berangkat.
.
Setelah sarapan bersama keluarga sehabis sholat Hari Raya, saya meraih ponsel, membuka WhatsApp dan ternyata teman saya sudah mengirim pesan kepada saya "Tes", pesannya singkat ingin menyapa. Beberapa chat terluncurkan, keputusan masih belum jelas mau kemana, sempat membahas Bawean lagi tapi tetap tidak ada solusi. Saya iseng membuka web penjualan tiket kapal feri, scrol scrol kebawah dan tiba-tiba tertarik pada angka Rp.27.000 "lah, murah" batin saya, tiket tersebut adalah tiket dari pelabuhan Ketapanag Banyuwangi tujuan pelabuhan Gilimanuk Bali. saya scenshoot tampilan layar itu. "ono luwih murah, luwih elastis jam berangkate" saya mencoba merayu. Setelah penasaran, kemudian saya kirim screenshoot tadi kepada teman saya "Bali" caption di foto itu.
.
5 Mei, bertepatan dengan 4 Syawal di tahun Hijriyahnya, saya dan tetangga saya berencana berangkat awal menuju acara Istiuhlal pondok, acara masih tanggal 7 Mei, tapi pimpinan saya mengutus anggotanya kembali sebelum acara. Kebetulan tetanga saya juga termasuk anggota, maka kami memutuskan berangkat bersama, membawa supra 125, menikmati perjalnan sore hari menuju pondok.
.
Ramai sekali, aula penuh, tamu berdatangan dari seluruh penjuru, dapur, jangan tanyakan bagaimana pengap didalamnya. Hari ini 7 Mei, tepat pada 6 Syawal, dimana santri dan alumni berkumpul untuk halal bi halal dan silaturahmi bersama teman, guru dan tentunya para Masyayikh atau Kyai. setelah 2 tahun tidak bisa bermusafahah atau salaman bersama Kyai karena pandemi, dan sekarang kesempatan itu ada, seluruh kerinduan para alumni pecah di hari itu.
.
Saya menuju kandang (tempat istirahat kang-kang abdi ndalem), disana ada teman lama saya juga ada teman saya yang akan berangkat bersama saya ke Bali, Kami berencana berangkat besoknya, tapi, setelah dipikir-pikir, untuk apa kami menunggu besok?, kan perjalanan bisa kami cicil mulai sore ini, oke start perjalanan kami majukan, kami akan berangkat sore ini.
.
Adzan Asar berkumandang, kami bersiap-siap. Setelah risau dengan tas ransel saya yang hilang ternyata dibawa oleh teman sekantor saya, alhamdulillah ada pinjaman tas lain yang bisa dipakai beberapa hari. Sholat. Setelah sholat saya langsung menemui teman saya dengan segala persiapan saya di ransel. Motor Astrea tahun 1998 hitam bersayap putih dengan tenda yang terpangku didepannya siap sudah menyala. Gas pertama keberangkatan kami menuju Bali, Sabtu, 7 Mei 2022/ 6 Syawal 1443 H. Kami awali perjalanan ini dengan menyebut nama Tuhan yang maha esa, Tuhan yang menyediakan bumi dengan segala keindahannya ini untuk dihampiri. kami santai menulusuri jalan Babat menuju tempat singgah pertama kami, Probolinggo.

Bersambung...

Komentar

Postingan Populer