#2 Assalamu'alaikum Media


Setelah puas dengan susu putih hangat di warung, kami kembali ke pondok. Selama perjalanan kembali, tiba-tiba terpikirkan besok setelah acara kita kemana?. Apakah ke wisata sekitar Sidoarjo?, atau langsung pulang ke Langitan?. Opo melok nang Malang?
.
Sampai dipondok kami menuju kamar lalu klesetan sejenak, tak lama rekan saya tiba-tiba tertidur yang kemudian saya ikut tidur juga. Ketika terbangun setelah tidur beberapa menit, terdengar suara pengumuman dari panitia bahwa pertemuan selanjutnya akan segera dimulai. Mendengar itu saya langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Disusul rekan saya yang baru terbangun dari tidurnya.
.
Acara dimulai setelah semua peserta menyantap makanan yang disediakan di meja masing-masing. Sesi selanjutnya yaitu; Multaqo Media Pondok Jawa Timur. Disini kami dikelompokkan per karesidenan daerah masing-masing. Karena kami dari perwakilan pondok Tuban, maka kami berkumpul dengan kelompok pondok dari Lamongan dan Bojonegoro.
.
Dalam lingkaran kelompok, oleh panitia kami ditugaskan untuk menyampaikan masalah atau kekurangan dari media pondok masing-masing, kemudian bersama-bersama kita mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut.
.
Kami berdua sebagai media baru dari Madrasah bingung untuk mencari masalah yang ada didalamnya. Karena memang kita baru menyusun struktur organisasi, progam-progam kerja pun belum terlaksana, jadi kami berdua diam mendengar yang lain menyampaikan masalah masing-masing.
.
Ditengah sesi Multaqo, saya disapa seseorang yang juga perwakilan dari pondok Tuban. "Saking pundi mas" Sapanya ramah sambil menjulurkan tangannya. "Saking langitan mas" Jawab saya sangat manis.
.
Kami pun berbincang lumayan lama. Mulai dari beberapa aplikasi yang dia pakai di HP untuk edit konten (dan ternyata banyak), cara streaming dan berbagai peralatannya, "aku duwe dulur nang langitan mas, jenenge Luthfi jogo toko induk pondok", yang kebetulan Luthfi adalah rekan seangkatan saya dipondok.
.
Sesi Multaqo selesai, perwakilan per distrik di tugaskan untuk menyampaikan hasil rundingan tadi. Ada yang baru menyusun struktur, ada yang menyampaikan banyak masalah yang solusinya hanya ngopi, ngopi dan ngopi. Ada juga yang ngersulo karena masih banyak pondok dari distrik mereka yang belum dijangkau dan tidak hadir dalam acara ini.
.
Akhirnya sampailah waktu dari distrik kami untuk menyampaikan masalah, kurang lebih seperti ini; "kami disini mau bersyukur, boleh kan?. Kenapa kami ingin bersyukur?. Kami bersyukur karena kami telah diberi wadah hebat seperti Media Pondok Jatim ini.
.
Seharusnya kita tidak perlu bertanya atau menagih bantuan dari pusat untuk meningkatkan followers kita (seperti pertanyaan yang disampaikan perwakilan suatu pondok, saya lupa). Kita di media ini bertujuan untuk berkhidmah, bukan untuk mencari followers. Kita menyuguhkan, terserah mereka mau melahap nya atau tidak".
.
"Jadi tidak seharusnya kita menyerang pusat karena sudah banyak followers sementara pondok kita sedikit followers, Pondok Jatim ini milik kita bersama, seharusnya kita harus turut senang karena Pondok Jatim ini berkembang". Tepuk tangan bertebaran dimana-mana.
.
Sesi Multaqo selesai, seluruh peserta dipersilahkan istirahat sejenak. Sementara kami berdua masih bertanya-tanya, besok kita mau kemana?, Pujon ta?. Pertanyaan itu terus tuju menuju diantara kami berdua.
.
Sebelum semua kembali ke kamar masing ternyata ada sesi foto bersama. Pertama golongan putri maju, kemudian disusul para laki-laki maju kedepan. Meskipun wajah saya tertutup banyak peserta dan tidak masuk dalam frame kamera, tapi disitu saya merasa senang bisa berkumpul dengan orang-orang hebat dalam media ini. Alay.
.
Waktunya makan bersama. Kali ini berkonsep kertas minyak yang dijajar memanjang lalu semua peserta makan bersama. Disini kehangatan semakin terasa. Istirahat sejenak.
.
"Piye nang pujon ta?", pertanyaan ini masih terus tayang.
.
Menjelang sore, tepatnya jam 14:30 waktu setempat, peserta kembali dikumpulkan di lokasi acara, kita tiba di sesi Dialog Media.
Disini panitia mendatangkan narasumber spesial H. Ahmad Hakim Jayli sang direktur TV9, TV kebanggaan NU. Banyak sekali pesan beliau yang menggugah semangat berkarya lagi. 
.
"Dulu saya seperti kalian semua", tutur beliau. "Dulu saya juga berkhidmah lewat media seperti kalian ini. Jadi kalian semua jangan patah semangat, semua tidak ada yang tau apa yang akan terjadi besok, mau jadi apa kelak. Semua tidak ada yang tau. Saya sendiri tidak menyangka dan tidak ada rencana menjadi direktur TV9. Siapa tau kalian semua nanti akan jadi orang besar?, tidak ada yang tau. Maka teruslah semangat berkarya". Saya berpikir, siapa tau saya besok jadi direktur Marvel Studio.
.
Tak hanya direktur TV9, panitia juga menghadirkan Grantika Pujianto sang sutradara film Sarung. Beliau menyampaikan tentang semua yang ada didunia ini sudah diatur Tuhan, jangan khawatir kekurangan. Intinya kita harus terus berjuang.
.
Beliau bercerita tentang perjuangan beliau menggarap film yang hanya menggunakan HP, perjuangan beliau nggarap film Sarung yang hanya menggunakan satu kamera. Dan baru selesai setelah setahun lebih. Banyak sekali pengalaman hebat ketika beliau mengerjakan film-film beliau.
.
Beliau juga menyampaikan kesan beliau setelah men-juri di Festival Pondok Jatim kategori perfilm-an. Ternyata karya teman-teman santri itu sudah bagus loh, tinggal penyempurnaan saja. Ada yang audionya masih kurang, ada yang pengambilan gambarnya masih kurang. Tetap semangat berkarya".
.
Acara selesai jam 19:00 lebih, tak terasa Ternyata tubuh mulai letih, masih dengan pertanyaan piye nang Pujon ta?. Dan akhirnya setelah menimbang dan memikirkan. Kami ber-keputusan untuk ikut kaka ipar rekan saya ke Pujon Malang. Keputusan sudah bulat, tinggal memastikan apakah di Pujon ada motor untuk jalan-jalan. Percuma kesana kalau tidak bisa keluar untuk menikmati sejuknya Pujon.
.
Setelah rekan saya bertanya pada kakaknya, dan kabar baiknya "di Pujon banyak motor" Kata beliau. Kami kembali berpamitan mengikuti acara dengan perasaan senang.
.
Malam harinya kami semua para peserta mengikuti acara malam puncak Festival Media Pondok Jatim, dengan dresscode pakaian putih peci hitam, kami terlihat gagah serempak.
.
Acara dihadiri orang-orang hebat termasuk sang fotografer Andika Barrera yang sudah saya nanti-natikan kedatangannya sejak siang tadi.
.
Acara berjalan lancar, dengan pembacaan nominasi-nominasi dari berbagai perlombaan, diiringi penampilan gambus lokal yang bernada timur tengah bergaya barat.
.
Karena saya ingin foto bersama idola saya Andika Barrera, saya memberanikan diri untuk mendekati ditemani rekan saya. Senang sekali, saya akhirnya bisa foto bersamanya, login Instagram, pamer lewat story.
.
Setelah acara selesai kami berdua menuju lantai dua untuk bersantai. Tak lama setelah kita duduk, ternyata kakak rekan saya menghampiri kami dan memberi kabar bahwa beliau bersama rekan beliau sudah siap untuk berangkat ke Pujon. Kami pun bergegas menuju kamar dan mengambil barang kami yang sudah dirapikan sebelum acara puncak. Kakak rekan saya menunggu diparkiran.
.
Perjalanan malam kami menuju Pujon dimulai.
.
Sebelum sampai di Pujon (selama perjalanan kami berdua tertidur)
Kami berhenti di pedagang nasi goreng dekat alun-alun kota Batu. Menikmati hidangan dan mulai merasakan dingingnya kota. Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke Pujon.
.
Lanjut publikasi selanjutnya brader.
Salam hangat Bagus Rasmidin

Komentar

Postingan Populer