#4 Para Pendakwah Dan Paralayang.
Mulanya, kami berenca kembali ke pondok hari ini, hari ke 4 dihitung dari awal kami berangkat dari pondok. Tapi setelah ada beberapa alasan termasuk masih belum puas, meskipun tidak akan ada rasa puas jika hanya beberapa hari disini. Kami memutuskan untuk kembali dihari besoknya dan akan berwisata ke Paralayang.
.
Pagi hari terbangun, seperti kemarin saya langsung menuju ruang tamu, membuka pintu utama dan menghirup udara yang segar.
.
Kami awali pagi ini menuju Cafe Sawah yang sudah cukup terkenal. Seperti biasa, kami menggunakan mantra untuk melewati loket. Setelah melihat-lihat sekitar, kami memesan dua minuman. Satu cangkir kopi rempah dan satu cangkir coklat panas. Setelah itu duduk di salah satu gazebo yang benar-benar di tepi sawah.
.
Dirasa sudah puas ngobrol dan berfoto, kami memutuskan untuk kembali ke kamar.
.
Setelah sholat jama' qoshor Dzuhur dan 'Asyar kami berangkat naik motor yang belum dikembalikan. Melewati perkampungan Pujon yang sejuk, sejuk dan sejuk.
.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Paralayang, kami bertujuan ingin bertemu teman seangkatan kami yang kebetulan mondok di Ponpes Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Disamping melepaskan rindu dengan Pondok Nurul Haromain yang masing-masing dari kami kebetulan pernah mondok Romadlon di pondok markas pendakwah ini.
.
Sampai disana kami disambut kang-kang santri yang kebanyakan mengenakan jubah atau qamis. Setelah menanyakan keberadaan teman kami yang awalnya katanya sakit tapi ternyata hari ini sudah sembuh, kami diantar ke ruang kantor dakwah, tepatnya di lantai atas gedung dakwah. Disana kami benar bertemu teman kami dan ternyata juga ada Mas Haidar.
.
Namanya Awwaluddin Saputra biasa dipanggil Tompleng. Bertempat tinggal di Gowa Turi Lamongan. Di pondok ini dia ditugaskan bagian operator audio.
.
Gedung dakwah hari ini ramai jama'ah berdatangan. Ternyata, hari ini adalah jadwal ngaji rutinan Selosoan. Mas Haidar dan teman kami terlihat sibuk menyiapkan live streaming pengajian. Melihat itu kami ingin bergegas pamit karena khawatir mengganggu kinerja mereka. Tapi sebelum itu kami meminta Tompleng untuk mengantarkan kami ke kantor media pondok.
.
Setelah hanya melihat-lihat kantor media dan cukup mengganggu Tompleng yang sedang melaksanakan tugasnya, kami memutuskan pamit dan menuju tujuan selanjutnya, Paralayang.
.
Awalnya, sebelum ke Paralayang kami berniat ke sumberan dekat pondok terlebih dahulu. Tapi melihat awan semakin mendung, kami menghilangkan sumberan dari daftar perjalanan hari ini dan langsung menuju Paralayang.
.
Sampai di loket wisata Paralayang, kami, tepatnya saya, kembali menggunakan mantra ajaib seperti di bukit Nirwana. Dan kami masuk tanpa dipungut biaya masuk. Ingin tau apa mantranya?, swipe up.
.
Paralayang adalah salah satu bukit tinggi yang berada di Pujon. Disini terdapat beberapa warung makan juga warung kopi. Tak ketinggalan ada juga beberapa spot foto yang disediakan pengelolah.
.
Disebut Paralayang karena di bukit ini adalah tempat penyewaan parasut paralayang. Kata rekan saya, terkadang juga banyat atlet yang latihan disini.
.
Hari mulai gelap, setelah beberapa kali gerimis, kami akhirnya memutuskan kembali. Berpamitan dengan pemandangan lampu satu kota yang dilihat dari atas. Indah memanjakan mata.
.
Tujuan kami selanjutnya adalah, alun-alun Kota Batu.
.
.
Kenapa kami memilih alun-alun Kota Batu lagi?, karena kemarin malam kami belum bisa masuk alun-alun sebab sudah tutup. Sedangkan saya sendiri belum pernah merasakan ketenangan bersantai di alun-alun Kota Batu.
.
Sampai di parkiran alun-alun, kami menuju Pos Ketan Legenda 1967 cabang alun-alun Kota Batu terlebih dahulu. Ternyata disana penuh pengunjung. Kami pun antri untuk memesan.
.
Setelah antri dan memesan satu ketan durian meisis dan satu ketan keju susu meisis (rekan saya anti durian), kami menunggu pesanan kami siap, dengan nomor antrian 117 yang ada di tangan saya. Setelah memakan beberapa waktu, akhirnya pesanan kami siap diambil. Kami memilih membungkusnya dan berencana menikmatinya di dalam area alun-alun.
.
Tidak ada Satpol PP diluar alun-alun, berarti aman, belum tutup. Kami langsung menuju salah satu pintu masuk. Setelah melangkahkan kaki menginjak bagian dalam alun-alun, tiba-tiba ada seseorang yang menegur kami, "mas, maaf alun-alun sudah tutup". Ah.
.
Sedikit kesal, tapi laki-laki harus kuat. Tercatat dalam sejarah, dua kali kami kesini dan dua-dua nya terlambat, alun-alun sudah tutup. Kami memutari alun-alun lalu duduk di trotoar memandangi jalanan kota sambil menikmati Ketan Legenda 1967.
.
Sebenarnya saya yang ingin sekali main alun-alun Kota Batu, rekan saya tidak terlalu ingin karena sudah pernah kesini beberapa kali. Duh, sedih. Untungnya ada Ketan Legenda 1967 yang meningkatkan rasa kebahagiaan.
.
Ditengah-tengah obrolan dan kunyahan manja ketan, tiba-tiba ada nada panggilan masuk di HP rekan saya. Ternyara Mas Haidar menelpon. "Assalamu'alaikum, mas posisi". Ternyata suara Tompleng yang ada disana. "Wa'alaikumsalam, nang alun-alun Batu Pleng, lapo?". Jawab rekan saya memberi informasi. Ternyata Tompleng sedang berada di kamar tempat kami tinggal selama dua hari ini. Maka kami sedikit bergegas menghabiskan ketan kami tapi tetap santai cantik. Setelah puas dengan jalanan Kota Batu, kami memutuskan untuk kembali.
.
Oh iya, setiap kali kami kembali ke kamar dari perjalanan ke Batu, kami selalu disapa beberapa orang yang menawarkan vila di tepi jalan menuju Pujon. "Vila vila vila", meski sudah malam, mereka tetap semangat menawarkan setiap wisatawan yang lewat di deretan puluhan vila yang panjang. Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya kami sampai di halaman kamar, di sambut Mas Haidar dan temannya yang sedang sibuk ngomongin vespa didepannya, juga ada Tompleng yang tadi menelpon kami. Kami berempat pun masuk.
.
Didalam, seperti biasa orang berkumpul pada umumnya, kami ngobrol bukan hanya ngalor ngidul, bahkan segala arah. Pengalaman dakwah Tompleng, Abi Ihya', Alumni dan lain-lain.
.
Tak terasa malam semakin larut, Mas Haidar dan temannya memutuskan kembali lebih awal, meninggalkan Tompleng dan satu vespa untuk dia kembali sendiri nantinya. Obrolan terus berlanjut. Lama kelamaan kami semakin bosan dan akhirnya membubarkan barisan. Tompleng kembali ke Haromain dan kami berdua memutuskan untuk tidur. Akhirnya besok siang kami berencana kembali ke pondok Langitan.
.
Lanjut publikasi selanjutnya brader
Salam hangat Bagus Rasmidin.

Komentar